Memperingati Hari Disleksia Sedunia – Memahami dan Mendukung Anak dengan Disleksia
8 Oktober diperingati sebagai Hari Disleksia Sedunia. Momentum ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk meningkatkan kesadaran dan empati terhadap penyandang disleksia, terutama pada anak-anak usia sekolah. Disleksia bukanlah tanda kurang cerdas, tetapi merupakan gangguan pada kemampuan membaca dan memproses huruf atau kata yang dipengaruhi oleh cara kerja otak dalam mengolah informasi.
Apa Itu Disleksia?
Disleksia adalah gangguan belajar (learning disorder) yang ditandai dengan kesulitan dalam membaca, menulis, atau mengeja, meskipun kecerdasan anak berada dalam batas normal atau bahkan di atas rata-rata. Anak dengan disleksia kerap mengalami kebingungan dalam membedakan huruf mirip seperti b dan d, p dan q, atau membaca kata secara terbalik.
Ciri-Ciri Anak dengan Disleksia
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua dan guru, di antaranya:
- Sulit mengenali huruf meskipun sudah diajarkan berulang kali
- Membaca terbalik, seperti “sapi” menjadi “ip as” atau 67 menjadi 76
- Kesulitan mengikuti instruksi tertulis atau lisan
- Sering tampak bingung, kehilangan fokus, atau cenderung menghindar saat membaca
- Menulis dengan huruf acak atau posisi huruf tidak sesuai
- Prestasi belajar sering tidak sesuai dengan usaha yang dilakukan
Penyebab Disleksia
Disleksia terjadi karena perbedaan cara otak memproses informasi bahasa, bukan karena pengaruh kurangnya pendidikan atau latihan membaca. Faktor genetik juga berperan—jika salah satu orang tua disleksia, peluang anak mengalami hal yang sama lebih tinggi.
Apakah Disleksia Bisa Disembuhkan?
Disleksia bukan penyakit dan tidak dapat “disembuhkan”, namun bisa dilatih dan dibantu dengan metode belajar yang tepat. Dengan pendampingan yang benar dan lingkungan yang suportif, anak dengan disleksia mampu tumbuh berprestasi bahkan memiliki kreativitas dan kecerdasan visual yang luar biasa.
Peran Orang Tua dan Guru Sangat Penting
Untuk mendukung anak dengan disleksia:
✅ Jangan langsung menilai anak “malas” atau “tidak pintar”
✅ Berikan cara belajar yang menyenangkan dan visual
✅ Ajak anak belajar perlahan dengan permainan huruf, warna, dan suara
✅ Beri pujian untuk setiap kemajuan kecil yang dicapai
✅ Konsultasikan ke dokter atau psikolog anak jika dicurigai ada gejala disleksia
✅ Fasilitasi terapi membaca atau terapi okupasi bila diperlukan
Dukungan dari Lingkungan Membuat Anak Lebih Percaya Diri
Anak dengan disleksia membutuhkan penerimaan, pengertian, dan semangat dari keluarga dan sekolah. Mereka bukan tidak mampu—hanya membutuhkan cara belajar yang berbeda. Banyak tokoh dunia dengan disleksia yang sukses, seperti Albert Einstein, Walt Disney, dan Steve Jobs.
👉 Jangan lupa follow sosial media Klinik dan sebarkan info kesehatan bermanfaat ke sekitar kita 💙
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
🏥 Klinik Pratama dr. Arief Wahyu Soekarno
📍 Jl. Ciu No. 2, Telukan, Grogol, Sukoharjo
https://share.google/3gLEjgss446kKtY8P
📞 Info & Layanan: https://wa.me/6282225155873
📲 Instagram: @klinik.dr.arief https://instagram.com/klinik.dr.arief
📘 Facebook: Klinik Pratama 24 Jam dr. Arief Wahyu Soekarno https://web.facebook.com/p/Klinik-24-Jam-dr-Arief-Wahyu-Soekarno-100063727236170/?_rdc=1&_rdr#
🌐 Website: www.klinikdrarief.com



